Jumat, 04 Agustus 2017

Review Chapter 874



==============================
~ Theoview One Piece Chapter 874 ~
==============================
Chapter ini kembali mengingatkan saya tentang betapa besanya pengaruh karakter-karakter perempuan dalam serial One Piece. Ini sesuatu yang terlalu besar untuk diabaikan. Tak ayal, benak ini dipaksa mengenang memori cerita-cerita yang telah lalu.
Dimulai dari Nami, yang di awal kemunculannya menjadi pemicu konflik di Arlong Park. Untuk pertama kalinya, integritas kru Topi Jerami diuji habis-habisan. Kesetiaan Nami dipertanyakan: Apakah pada Arlong atau pada Luffy? Dan pertanyaan itu terjawab dengan sangat dramatis di akhir kisahnya, di mana Luffy berteriak lantang di puncak puing-puing Arlong Park, “Nami!! Kau adalah sahabatku!!”. Lalu dijawab pelan oleh Nami dengan, “Iya” seraya menyeka air mata di wajah dengan punggung jarinya.
Situasi serupa kembali terjadi di Water Seven. Kesetiaan salah seorang kru perempuan Topi Jerami dipertanyakan. Hanya saja, kali ini menimpa Nico Robin. Fandom One Piece pasti tahu persis betapa kerasnya pendakian Luffy dan kawan-kawan demi memastikan kesetiaan Nico Robin. Hanya untukmenjawab pertanyaan: Berada di sisi manakah dia? Pemerintahan Dunia atau kelompok calon Raja Bajak Laut? Pertanyaan itu akhirnya terjawab di chapter 398, “Deklarasi Perang”. Bertempat di puncak Menara Judisial, Robin meneriakkan kalimat “Aku ingin Hidup!!” yang fenomenal itu.
Waktu bergulir, kita juga bertemu Boa Hancock. Si Permaisuri Bajak Laut. Pun si pembenci kaum pria,karena dia punya masa lalu yang buruk dengan mereka. Kebencian itu pun ditumpahkannya kepada Luffy lewat pentas gladiator kaum Kuja. Namun, pucuk dicinta, kepolosan Luffy rupanya mengubah benci jadi cinta. Mungkin bagimu, cinta Hancock ke Luffy hanya picisan belaka. Namun jangan salah, rasa cinta itulah sukses mengantarkan Luffy ke Impel Down! Alias sebuah momen yang menjadi cikal bakal keikutsertaannya pada “The Battel of The Highest” di Marineford. Nama Luffy pun dipastikan akan tercatat sejarah. Dengan rasa cinta yang sama pula, Luffy selamat dari perang itu sehingga kiprahnya di jalan terjal menuju gelar Raja tetap berlanjut.
2 tahun berlalu, Viola muncul. Perempuan berdarah kerajaan ini dipaksa mengabdi pada musuh selama 10 tahun. Berpura-pura semua baik saja. Namun Sanji yang datang dengan “kishido”(sifat kesatria)-nya berhasil membongkar kepura-puraan itu. Viola pun berubah menjadi salah satu aliansi terbaik Topi Jerami selama revolusi Dressrosa.
Nah, sekarang cermati kisah-kisah para karakter perempuan di atas. Mereka punya satu pola peranan yang sama, yaitu sama-sama pernah mempersulit Luffy dan kawan-kawan pada titik-titik tertentu. Namun berkat kegigihan Luffy dkk dan ketulusan mereka yang sangat menular dalam setiap aksinya, para perempuan itu pun luluh hatinya. Yang tadinya mempersulit pun berubah jadi menopang! Jujur saja, tanpa sokongan perempuan-perempuan ini, mustahil Luffy bisa berlayar sejauh Whole Cake. Mustahil. Peran mereka terlalu signifikan.
Maka chapter ini menjadi menarik karena ada indikasi bahwa pola tersebut akan terulang kembali.
Di sini kita melihat Pudding yang sempat mempersulit Luffy dan aliansi beberapa waktu lalu. Namun hatinya berubah ketika Sanji menunjukkan simpatinya yang tulus. Kemudian, panel terakhir itu --saat Pudding berkata bahwa niatnya membuat kue hanya demi keselamatan Sanji dan rekan-rekan—saya tidak punya reaksi lain selain merinding sesaat.
Berkaca dari peran karakter perempuan di masa lalu, saya rasa tak berlebihan untuk berteori bahwa niat baik Pudding ini akan berbuah manis bagi Luffy dan kawan-kawan.
Chiffon tampaknya akan menerima ajakan Pudding untuk membuat kue. Mungkin nanti dia akan ikut naik ke permadani terbang lalu melesat ke pulau Kokoa untuk mengambil bahan-bahan spesial yang disebut Pudding di chapter sebelumnya. Di sana, kue akan diracik sampai sempurna, lalu permadani terbang segera melesat kembali ke Whole Cake, tepatnya ke Hutan Penggoda. Hidangan akan disuguhkan untuk Big Mom yang kelaparan.
* * *
Bagian paling menarik kedua setelah Pudding adalah Katakuri. Ini asli keren. Katakuri berjaga-jaga di Sunny adalah pengakuan tidak langsung bahwa dia tidak meremehkan Luffy. Dan sudah sepantasnya begitu, karena rekam jejak menunjukkan bahwa Luffy yang bergerak bersama krunya nyaris tidak pernah gagal dalam misi apapun (kecuali saat insiden Sabaody 2 tahun lalu).
Bagian paling menarik ketiga adalah King Baum. Saya sempat berempati dengan Baum hanya karena melihat tunangannya ditebas jurus pedang Elbaf Dorey-Burogy. Padahal dia cuma pohon (pohon, lho, pohon!). Namun, hei, kita sedang bicara tentang manga yang sukses membuat fandomnya berduka hanya karena kapal rongsokan ‘menutup usia’-nya. Jadi, ini bukan hal baru. Walaupun, tetap saja, peran Baum punya nilai tersendiri di chapter ini.
Zeus kecanduan bola petir milik Nami menjadi kejutan yang menyenangkan. Masih ingat kan? kita sempat berprediksi bahwa pengendalian cuaca Nami akan beradu dengan cuaca Big Mom. Namun siapa sangka caranya akan ‘imut’ seperti ini.
Oh ya, Kemarahan Prometheus pada Baum mirip dengan jurus “Entei” milik mendiang Ace. Wujudnya terlalu mirip. Pasti banyak juga yang menyadarinya. Apalagi Ace muncul di cover story.
Oh ya, jangan lupakan karakter yang satu ini: Pound.
Kalau nggak salah ingat, terakhir kali dia masih berada di Hutan Penggoda. Maka bisa jadi dia juga akan turut membantu Luffy kabur.
Dan akhirnya, chapter ditutup dengan “minggu depan libur”.
- Roku -
Load disqus comments

0 komentar